MEMBAWA SINEMA LEBIH DEKAT DENGAN WARGA, DARI RUANG KELAS HINGGA DUSUN

MEMBAWA SINEMA LEBIH DEKAT DENGAN WARGA, DARI RUANG KELAS HINGGA DUSUN

Sebuah film tidak selalu membutuhkan gedung bioskop untuk menemukan penontonnya. Di ruang kelas, di tengah lingkungan dusun, atau di tempat berkumpulnya para relawan, film dapat hadir dengan cara yang lebih sederhana: mempertemukan orang-orang, mengundang percakapan, dan membuka kesempatan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Semangat itulah yang dibawa melalui program Sinema untuk Semua, sebuah inisiatif Temanspace, bagian dari Yayasan Untuk Teman Indonesia. Program ini menghadirkan beragam film, baik fiksi maupun dokumenter, ke tengah masyarakat. Film tidak ditempatkan semata-mata sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pemantik diskusi, ruang ramah tamah, sekaligus sarana untuk menggali potensi yang tumbuh di lingkungan masyarakat sendiri.

Dalam program ini, sinema meninggalkan sejenak ruang pemutaran yang selama ini identik dengan gedung bioskop atau kelompok penonton tertentu. Film dibawa ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian warga, tempat orang-orang dapat menonton bersama, bertukar pikiran, dan membicarakan hal-hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Ghalif Putra Sadewa, dosen Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan tersebut. Baginya, mempertemukan film dengan masyarakat bukan hanya perkara memperluas akses tontonan. Lebih dari itu, perjumpaan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali cerita, pengalaman, dan potensi yang dimiliki setiap individu maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Empat titik penayangan menjadi ruang perjumpaan dalam program ini, yakni SMA Negeri 1 Kalibawang, Dusun Ponces di Purwosari, Karangrejo di Borobudur, serta Sikepan di Bringin, Srumbung, Magelang. Setiap lokasi menghadirkan suasana dan karakter penonton yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat kegiatan pemutaran film tidak berhenti sebagai agenda menonton bersama, melainkan berkembang menjadi pengalaman yang khas di setiap tempat.

Di SMA Negeri 1 Kalibawang, penonton berasal dari kalangan pelajar kelas X dan XI. Pada usia ketika rasa ingin tahu dan pencarian jati diri sedang tumbuh, film dapat menjadi ruang untuk berkenalan dengan pengalaman di luar keseharian mereka. Cerita yang hadir di layar membuka kemungkinan untuk melihat persoalan dari perspektif berbeda, sekaligus menjadi bahan percakapan bersama.

Suasana yang berbeda ditemukan di Dusun Ponces dan Sikepan. Pemutaran di kedua tempat ini dihadiri masyarakat setempat dengan rentang usia yang beragam, mulai dari remaja hingga lanjut usia. Film menjadi titik temu bagi warga dengan latar pengalaman yang tidak selalu sama. Mereka duduk bersama menikmati cerita yang sama, tetapi bisa saja membawa pulang pemaknaan yang berbeda.

Sementara itu, pemutaran di Karangrejo, Borobudur, secara khusus menyasar para relawan yang bergerak dalam isu kesehatan dan sosial. Dalam konteks ini, film berpotensi menjadi ruang untuk merefleksikan pengalaman mereka ketika berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat. Cerita yang ditampilkan dapat membuka percakapan tentang kemanusiaan, kepedulian, dan berbagai realitas sosial yang dekat dengan kerja-kerja mereka.

Perbedaan karakter penonton di empat lokasi tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman menikmati film tidak pernah sepenuhnya seragam. Film yang sama dapat memantik pertanyaan berbeda, menghadirkan ingatan yang berlainan, atau membuka percakapan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Di situlah letak keluwesan sinema: ia dapat menjangkau berbagai kelompok tanpa harus kehilangan kemampuannya untuk menyentuh pengalaman personal.

Dalam pandangan Ghalif, film merupakan salah satu ruang seni yang paling umum dan luwes untuk menceritakan sesuatu kepada orang lain. Cerita itu bisa berangkat dari diri sendiri, kehidupan desa, hingga persoalan lingkungan hidup. Pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi bahan cerita yang berarti ketika disampaikan melalui sudut pandang yang jujur.

Kamera, dalam proses tersebut, dapat ditempatkan sebagai mata pencerita. Ia membantu seseorang merekam apa yang dilihat, dialami, dan dianggap penting untuk dibagikan kepada orang lain. Namun, perangkat dan kecakapan teknis bukan satu-satunya hal yang menentukan kekuatan sebuah film. Kejujuran dalam bercerita menjadi unsur penting agar pengalaman yang disampaikan memiliki kedekatan dengan penontonnya.

Dengan cara pandang tersebut, kemampuan bercerita melalui film tidak harus menjadi milik mereka yang telah lama berkecimpung dalam industri perfilman. Setiap orang memiliki kemungkinan untuk mengangkat cerita dari lingkungan terdekatnya. Sebuah desa, misalnya, tidak hanya dapat dilihat sebagai lokasi atau latar, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan sejarah, kebiasaan, pengetahuan, persoalan, dan potensi yang layak diceritakan.

Ghalif juga menekankan bahwa ekosistem sinema tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang membuat film. Di dalamnya terdapat beragam peran yang saling melengkapi. Ada mereka yang bekerja di bidang produksi, ada yang berfokus pada distribusi, dan ada pula yang mendalami kajian film. Masing-masing memiliki kontribusi dalam menjaga agar film terus diproduksi, dipertemukan dengan penonton, dan dibicarakan secara kritis.

Satu peran lain yang tidak kalah penting adalah penonton. Menonton dan mengapresiasi film bukan kegiatan pasif yang berhenti ketika tayangan selesai. Penonton dapat mengambil bagian dalam perjalanan sebuah karya dengan membicarakannya, membagikan pengalaman setelah menonton, serta memperkenalkan cerita dan gagasan di dalamnya kepada orang lain.

Dalam pengertian ini, apresiasi menjadi bagian dari keberlangsungan sinema. Sebuah film tidak hanya hidup ketika dibuat, tetapi juga ketika ditonton, dimaknai, diperdebatkan, dan dibagikan kembali melalui percakapan. Pertemuan antara film dan penonton membuka kemungkinan bagi sebuah cerita untuk menjangkau orang-orang yang lebih luas, bahkan melahirkan pemahaman baru tentang persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Program Sinema untuk Semua menghadirkan kemungkinan tersebut melalui perjumpaan yang sederhana. Tidak harus dimulai dari fasilitas yang megah atau pembicaraan yang rumit tentang film. Sebuah pemutaran dapat menjadi awal untuk saling mengenal, mendengar pengalaman orang lain, dan melihat kembali lingkungan sendiri melalui sudut pandang yang berbeda.

Ketika film hadir di sekolah, dusun, dan ruang komunitas, yang dibawa bukan hanya gambar bergerak dan cerita di layar. Ada kesempatan untuk membangun hubungan antarmanusia, merawat percakapan, serta menemukan potensi yang mungkin selama ini belum banyak diperhatikan. Pada akhirnya, sinema bukan semata-mata tentang siapa yang membuat film atau di mana film ditayangkan, melainkan juga tentang bagaimana sebuah cerita menemukan penontonnya dan menjadi bagian dari kehidupan bersama. (Humas)

Memuat

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID