Tim Peneliti Multidisiplin ISI Yogyakarta Gali Kearifan Lokal Masyarakat Adat Bonokeling Lewat Skema Bestari-Saintek

Tim Peneliti Multidisiplin ISI Yogyakarta Gali Kearifan Lokal Masyarakat Adat Bonokeling Lewat Skema Bestari-Saintek

Banyumas, 24 Januari 2026 – Pasca dinyatakan Lolos Seleksi Expression of Interest (EoI) pada program Bestari-Saintek 2026 dari Kemdiktisaintek, tim peneliti multidisiplin ISI Yogyakarta bergerak cepat melakukan riset lapangan. Pada Sabtu 24 Januari 2026, tim melakukan kunjungan resmi ke pusat Masyarakat Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.

Kunjungan ini merupakan bagian dari pematangan proposal penelitian berjudul: “Memvisualisasikan Jati Diri Bangsa: Sinergisitas Nilai Filosofis Masyarakat Adat Bonokeling sebagai Sumber Inspirasi Motif Batik, Konten Animasi, dan Komik melalui Pendekatan Community-led Living Labs (CoLL) Berkelanjutan.”

Rombongan yang dipimpin oleh Dr. Samuel Gandang Gunanto, S.Kom., M.T., diterima langsung dengan hangat oleh Ki Sumitro, Ketua Adat sekaligus Kyai Kunci Masyarakat Adat Bonokeling. Pertemuan di Bale Mangu tersebut menjadi momen krusial untuk menggali sejarah Eyang Bonokeling, sosok bangsawan Kadipaten Pasir Luhur yang memiliki garis keturunan dari Kerajaan Pajajaran.

“Restu dari Ki Sumitro adalah fondasi utama kami. Data yang kami peroleh hari ini akan memperkuat draf proposal final yang harus kami kumpulkan paling lambat Sabtu, 31 Januari 2026, guna melaju ke tahap pendanaan penuh,” jelas Dr. Samuel Gandang Gunanto, S.Kom., M.T.

Adapun jumlah peneliti yaitu 8 Dosen dengan Multidisiplin Keilmuan yang kesemuanya merupakan Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 8 orang dosen tersebut adalah:

  1. Dr. Samuel Gandang Gunanto, S.Kom., M.T. (Sebagai Ketua Peneliti)
  2. Dr. Sugeng Wardoyo, M.Sn.
  3. Tri Wulandari, S.Sn., M.A.
  4. Rahmat Aditya Warman, S.Pd., M.Eng.
  5. Beni Pusanding Tuah, S.P., M.Sn.
  6. Nurhadi, M.Sn.
  7. Akhmad Syaiful Anwar, S.Ds., M.Ds.
  8. Ginanjar Setyo Nugroho, S.Kom., M.Kom.

Komunitas Adat Bonokeling dikenal memiliki sejarah panjang yang kuat. Merujuk pada catatan sejarah, leluhur mereka, Eyang Bonokeling, diyakini sebagai putra bangsawan dari Kadipaten Pasir Luhur yang masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Pajajaran. Keberadaan komunitas ini menjadi bukti hidup pelestarian tradisi Islam Kejawen yang harmonis, yang telah bertahan selama lebih dari tiga abad di tanah Banyumas.

“Kunjungan ini bukan sekadar observasi, melainkan upaya ‘sowan’ untuk memohon restu serta mendalami filosofi hidup Monembah, Moguru, Mongabdi, dan Makaryo langsung dari sumbernya,” ujar Dr. Samuel Gandang Gunanto, S.Kom., M.T. di sela-sela kunjungan.

Sesuai dengan pendekatan Community-led Living Labs (CoLL), masyarakat adat diposisikan sebagai subjek riset. Dalam diskusi bersama Ki Sumitro, Tim Riset ISI Yogyakarta menekankan bahwa teknologi yang akan dikembangkan mengutamakan privasi adat. Mengingat sifat kerahasiaan (keleman) dalam ajaran Bonokeling, tim merancang sistem penyimpanan terenkripsi agar dokumentasi sakral tetap terlindungi, namun nilai-nilai luhur seperti Monembah, Moguru, Mongabdi, dan Makaryo tetap bisa menginspirasi dunia luar melalui karya kreatif yang etis.

Kunjungan ini diharapkan menjadi penguat substansi proposal serta berkontribusi nyata dalam melestarikan kearifan lokal khususnya Komunitas Adat Bonokeling jika nantinya lolos seleksi substansi proposal. Tim Peneliti bekerja secara maksimal, agar seleksi substansi proposal dapat lolos. Mohon doa dan restu. (Humas)

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID