FSMR ISI YOGYAKARTA DAN BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA JALIN KERJA SAMA UNTUK MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN DALAM BIDANG PELESTARIAN SITUS SEJARAH

Sebagai upaya untuk memperluas jaringan guna mengembangkan manfaat keilmuan kepada masyarakat luas, maka Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membuka diri untuk berbagai potensi kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah kerja sama dengan Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta dengan melibatkan civitas academica  untuk mengaplikasikan ilmunya bagi pengembangan pelestarian bidang budaya dan sejarah.

Kerja sama diawali antara Program Studi (Prodi) Film dan Televisi dengan Balai Arkeologi Yogyakarta dalam kegiatan “Rumah Peradaban” Balar, yaitu dalam rupa kegiatan Workshop Audio Visual Rumah Peradaban yang dilaksanakan di Situs Pleret, Bantul, untuk siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan melibatkan beberapa dosen dan mahasiswa Prodi Film dan Televisi. Bahkan, pada hari Jumat (21/2/20) Prodi Film dan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengadakan kuliah umum bersama Kepala Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Bapak Drs. Sugeng Riyanto, M.Hum. Kuliah umum ini merupakan lanjutan kerja sama FSMR ISI Yogyakarta dengan Balar. Peserta kuliah umum tersebut adalah mahasiswa Prodi Film dan Televisi FSMR, dengan dihadiri pula oleh Ketua Program Studi Film dan Televisi, Agnes Widyasmoro, S.Sn, M.A., beserta beberapa dosen daria Prodi Film dan Televisi, FSMR ISI Yogyakarta. Adapun materi kuliah umum yang disampaikan adalah tentang kebudayaan nusantara dalam perspektif arkeologi.

Sedangkan pada Rabu 4 Maret 2020 di Ruang Rapat Dekan, FSMR, ISI Yogyakarta, pembicaraan mengenai konsep kerja sama dilanjutkan dengan menggandeng Prodi D3 Animasi dan Prodi Fotografi. Program kerja sama yang direncanakan dengan Prodi D3 Animasi adalah pembuatan produk edukasi dalam bentuk film animasi tentang Situs Liyangan dengan Program Studi (Prodi) D3 Animasi. Liyangan merupakan sebuah desa atau dusun, yang berada di lereng Gunung Sindoro, yang kondisinya ketika ditemukan tengah tertimbun oleh material letusan Gunung Sindoro. Film tersebut dalam rencananya akan di-launching pada bulan September 2020 mendatang sebagai program kegiatan Rumah Peradaban. Rumah Peradaban memiliki tiga kegiatan yaitu Pendidikan, Produk Pendidikan, dan Buku Pengayaan Pendidikan yang bertujuan untuk mengedukasi publik dan merekonstruksi situs Liyangan sesuai dengan peradaban pada masa itu.

Selanjutnya, Balai Arkeologi Yogyakarta juga mengajak Prodi Fotografi untuk bekerja sama dalam program pelatihan fotografi dan pengarsipan foto kepada staf Balai Arkeologi Yogyakarta. Dalam bidang dokumentasi foto, selama ini Balai Arkeologi Yogyakarta mengalami kesulitan karena cakupan wilayahnya yang sangat luas meliputi Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, sehingga membutuhkan tim yang memiliki kemampuan fotografi yang baik. Pendokumentasian kegiatan dan situs-situs sejarah di wilayah kerja Balai Arkeologi Yogyakarta menjadi penting karena hasilnya akan dijadikan bukti serta bahan kajian bagi kebijakan pemeliharaan dan pengembangan situs sejarah. Menurut Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, Putri Taniardi, M.Hum., program pendokumentasian tahunan tersebut membutuhkan banyak sekali fotografer karena berbagai lokasi penemuan situs sejarah yang tersebar di beberapa daerah. Selain itu, Balai Arkeologi Yogyakarta juga harus memiliki hasil foto yang baik, karena nantinya digunakan sebagai arsip penelitian.

Bagi FSMR, program kerja sama tersebut sangatlah bermanfaat baik untuk lembaga maupun civitas academica. Harapannya, nantinya para mahasiswa juga berkesempatan melakukan Kerja Praktik di Balai Arkeologi Yogyakarta sehingga mereka akan mendapatkan pengalaman baru, ilmu, dan wawasan baru tentang budaya, sejarah, dan Arkeologi, serta dapat mengaplikasikan ilmunya dengan baik. Dekan FSMR ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn, menyatakan bahwa program kerja sama ini menjadi wujud nyata pemanfaatan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Beliau berharap, produk-produk yang dihasilkan nantinya dapat menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan secara umum dan menjadi arsip yang bersifat edukatif bagi pengelolaan dan pelestarian situs sejarah di Indonesia.