FOTO JURNALISTIK, NOW AND BEYOND

Hari ini paradigma jurnalistik cenderung mengalami perubahan. Arus informasi kian tak terbendung,  mengubah pemahaman tentang sumber, saluran, dan jangkauan produk jurnalistik itu sendiri. Disrupsi media pun mengakibatkan produk-produk informasi melenceng dari esensinya. Foto jurnalistik, sebagai salah satu produk jurnalistik tak terlepas dari fenomena tersebut. Perekaman peristiwa faktual dan akurat, dimaknai lebih jauh dengan menambahkan “drama” agar hasilnya mampu mendobrak empati antar-manusia. Namun, apakah drama tersebut memang menjadi ruh dari peristiwa, atau hanya menjadi bumbu-bumbu belaka? Bagaimana kapasitas media dan para pewarta foto dalam konsep jobs to be done untuk memahami pembaca/pemirsa? Bagaimana pula para fotografer menyematkan perspektif dan konteks di setiap karyanya?

Ilustrasi tentang fenomena fotografi jurnalistik di atas menjadi gambaran tentang kompleksnya tantangan yang harus dihadapi oleh para pewarta foto sebagai saksi mata terdepan sebuah peristiwa. Penggalan-penggalan realita peristiwa dicuplik menjadi foto yang bisa bicara seribu bahasa. Persoalannya, banyak para pewarta foto yang kurang memahami pentingnya menginformasikan peristiwa sesuai dengan konteksnya sehingga dampak yang muncul menjadi dorongan bagi perubahan yang lebih baik. Program Studi (Prodi) Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menyadari pentingnya tindakan nyata guna menyiapkan para lulusannya dengan berbagai bekal wawasan dan keterampilan untuk menjawab tantangan zaman, terutama di bidang jurnalistik, mengingat salah satu konsentrasi di Prodi ini adalah fotografi jurnalistik.

Pada Rabu (19/2/2020), Kuliah Umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” dilaksanakan di Ruang AUVI, FSMR ISI Yogyakarta. Empu Ageng Oscar Motuloh yang didaulat menjadi pembicara dalam kuliah umum tersebut mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa objektivitas adalah subjektivitas itu sendiri. Memahami fungsi profesi sebagai pewarta foto menjadi penting untuk memandu workflow dalam melaporkan peristiwa melalui foto. Pertimbangan matang harus dilakukan untuk menghasilkan foto yang memuat aspek artistik dan estetik sehingga bisa dinikmati. Harapannya, saat disiarkan nantinya foto tersebut juga dapat berdampak dan diolah menjadi motivasi menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Selanjutnya, para pewarta foto juga harus mempelajari teknologi untuk mendukung pekerjaannya. Namun demikian, internet harus dimanfaatkan dengan bijak, sebagai salah satu sarana verifikasi data dan bukan sumber utama  yang lantas harus dipercaya begitu saja. Skeptisme harus dijaga agar subjektivitas juga tak melulu menjadi pembenaran.

Selain Empu Ageng Oscar Motuloh, kuliah umum tersebut juga dihadiri pewarta foto senior Harian Kompas, Arbain Rambey dan Danu Kusworo. Bahkan sutradara dan fotografer kawakan Indonesia, Jay Subyakto turut hadir dan memberikan cerita mengenai proyek film dokumenter berjudul ‘Banda: The Dark Forgotten Traill’ yang unik karena melibatkan fotografer dalam pembuatannya. (Red)

KULIAH UMUM EMPU AGENG OSCAR MOTULOH

Empu Ageng Oscar Motuloh memaparkan materi pada Kuliah Umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” dilaksanakan di Ruang AUVI, FSMR ISI Yogyakarta, Rabu (19/2/2020). Suasana Kuliah Umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” yang berlangsung di Ruang AUVI, FSMR ISI Yogyakarta, Rabu (19/2/2020). Empu Ageng Oscar Motuloh menjadi pembicara utama pada kuliah umum tersebut.

SUASANA KULIAH UMUM

Suasana Kuliah Umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” yang berlangsung di Ruang AUVI, FSMR ISI Yogyakarta, Rabu (19/2/2020). Empu Ageng Oscar Motuloh menjadi pembicara utama pada kuliah umum tersebut.

CERITA ARBAIN RAMBEY

Fotografer senior Harian Kompas, Arbain Rambey, menceritakan pengalamannya sebagai pewarta foto di sela-sela kuliah umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” yang berlangsung di Ruang AUVI, FSMRISIYogyakarta, Rabu (19/2/2020).

CERITA JAY SUBYAKTO

Sutradara dan fotografer kawakan Indonesia, Jay Subyakto, menceritakan tentang film dokumenter dokumenter ‘Banda: The Dark Forgotten Traill’ di sela-sela kuliah umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” yang berlangsung di Ruang AUVI, FSMR ISI Yogyakarta, Rabu (19/2/2020). Empu Ageng Oscar Motuloh terlibat sebagai Director of Photography (DoP) dalam proyek film tersebut.

APRESIASI DARI JURUSAN FOTOGRAFI

Ketua Jurusan Fotografi Dr. Irwandi, M.Sn., memberikan apresiasi kepada Empu Ageng Oscar Motuloh sebelum kuliah umum bertajuk “Journalism: Now and Beyond” berlangsung di Ruang AUVI, FSMR ISI Yogyakarta, Rabu (19/2/2020).