CRITICIZING PHOTOGRAPHS: LANGKAH-LANGKAH PENULISAN KRITIK FOTO

Dalam dunia seni, khususnya fotografi, kritik seringkali dianggap sebagai sebuah penghakiman atas kekurangan sebuah karya. Padahal, jika dimaknai lebih luas,  kritik seni lebih merupakan sebuah tinjauan seni atau tanggapan untuk menghargai dan mengapresiasi sebuah karya secara lisan maupun tulisan. Atas dasar itulah, Learn From Home edisi 67 mengadakan diskusi secara daring dengan mengangkat tema “Criticizing Photographs: Langkah-Langkah Penulisan Kritik Foto” pada hari Selasa (21/7) dengan pembicara Dekan Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), ISI Yogyakarta, yaitu Dr. Irwandi, M.Sn.

Menurut Dr. Irwandi, M.Sn., kritik seni secara umum memang dibagi menjadi dua hal antara menyenangkan dan tidak. Kritik seni bahkan bisa menjadi perantara antara karya seni dengan masyarakat. Kritik seni saat ini berfungsi pula sebagai sarana untuk memberikan pemahamanan yang lebih baik pada masyarakat terhadap seni. Dari aktivitas yang berada dalam wilayah kritik seni tersebut, kritikus dapat mengenalkan seniman, karya, maupun pameran kepada masyarakat.

Terkait hal tersebut, dalam dunia fotografi, kritik fotografi sebaiknya tidak hanya menyajikan ulasan karya, namun juga dikaitkan dengan konteks yang lebih luas agar kritik tersebut menjadi arsip yang menggambarkan perkembangan maupun pergeseran fotografi pada setiap zaman. Penerapan metode-metode kritik seni yang kekinian, tanpa meninggalkan esensi akademis patut terus dipertahankan dan dikembangkan. Meskipun budaya kritik seni di Indonesia agak tertinggal dengan negara lain, namun proses membangun ruang diskusi melalui kritik seni dalam dunia fotografi tetap harus terus dilakukan.

Perjalanan kritik seni sudah dimulai dari sekitar tahun 1967 melalui tulisan karya Edmund Burke Feldman dengan judul Art as Image and Idea. Feldman memberikan gambaran tentang prosedur untuk melakukan tinjauan seni atau kritik seni. Sedangkan dalam dunia fotografi, konsep kritik seni pernah dituliskan oleh Terry Barrett di tahun 90-an hingga 2011 dengan bukunya berjudul Criticizing Photographs: An Introduction to Understanding Images.

Kritik seni memiliki beberapa kategori, antara lain kritik pedagogik, kritik populer, kritik jurnalistik, dan kritik ilmiah. Saat ini, kategori yang sering diterapkan dalam penulisan kritik seni adalah kritik ilmiah yang sering dilakukan mahasiswa fotografi dalam penulisan sehari-hari dan kritik jurnalistik yang berdimensi berita untuk memberikan informasi seni pada masyarakat. Dari sebuah kritik seni, para kritikus menawarkan kebenaran argumentatif yang didasari metodologi sebagai upaya untuk mengajukan pendapat  terhadap karya orang lain.

MATERI YANG DISAMPAIKAN
Dekan Fakultas Seni Media Rekam Dr. Irwandi, M.Sn., memaparkan materi kritik foto pada webinar edisi 67 yang diselenggarakan oleh Learn From Home dengan  tema “Criticizing Photographs: Langkah Langkah Penulisan Kritik Foto” berlangsung pada Selasa (21/7). Materi tersebut mengulas bagiamana iklim praktik kritik foto  di Indonesia.
BUKU PANDUAN KRITIK SENI
Dekan Fakultas Seni Media Rekam Dr. Irwandi, M.Sn., menunjukan beberapa buku panduan kritik seni saat webinar edisi 67 yang diselenggarakan oleh Learn From Home dengan  tema “Criticizing Photographs: Langkah Langkah Penulisan Kritik Foto” berlangsung pada Selasa (21/7).
SESI TANYA JAWAB
Peserta webinar mengajukan pertanyaan saat sesi dikusi webinar edisi 67 yang diselenggarakan oleh Learn From Home dengan  tema “Criticizing Photographs: Langkah Langkah Penulisan Kritik Foto” berlangsung pada Selasa (21/7). Dalam diskusi tersebut, para peserta memberikan masukan bagaimana membangun iklim dkritik foto yang baik di Indonesia.