GHALIF PUTRA SADEWA SOROTI KRISIS RUANG TAYANG BAGI RATUSAN KARYA FILM PELAJAR DI YOGYAKARTA

GHALIF PUTRA SADEWA SOROTI KRISIS RUANG TAYANG BAGI RATUSAN KARYA FILM PELAJAR DI YOGYAKARTA

YOGYAKARTA – Dosen Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta, Ghalif P. Sadewa, menyoroti minimnya akses distribusi dan ruang apresiasi bagi karya film yang dihasilkan oleh para pelajar SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hal tersebut ia sampaikan dalam Sarasehan Seni Budaya Film Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bertajuk ”Ekspansi Layar, Regenerasi Ruang: Menakar Hak Publik dan Masa Depan Ruang Putar Alternatif” yang digelar pada Jumat (12/06/2026) di Ruang Seminar TBY.

Ghalif, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Forum Film Pelajar Jogja (FFPJ), mengungkapkan keprihatinannya atas nasib ratusan film tugas akhir siswa yang berakhir tidak terdistribusi. Berdasarkan catatannya, terdapat sekitar 207 SMK di DIY, dengan hampir setengahnya memiliki jurusan yang menghasilkan produk audio visual. Jika setiap sekolah menghasilkan setidaknya satu karya film tugas akhir, maka terdapat ratusan film pelajar yang diproduksi setiap tahunnya.

“Anak-anak SMK itu belum tahu distribusi. Mereka cuma tahu, ‘Ayo bikin film buat tugas’. Pertanyaannya adalah, habis itu filmnya ke mana? Ini anak SMK lho, karya-karyanya berakhir menumpuk,” ujar Ghalif di Ruang Seminar TBY.

Menurut Ghalif, persoalan regenerasi ruang dan hak publik menonton karya tidak hanya berkaitan dengan film profesional, tetapi juga keberlangsungan karya pelajar. Ia menekankan bahwa kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah penyediaan ruang penayangan yang bersifat periodik dan ramah bagi publik. Keberadaan ruang tersebut diharapkan mampu memperkuat budaya menonton di masyarakat, yang pada akhirnya dapat membangun kebiasaan menonton sebagai bagian dari literasi seni.

Sarasehan ini turut menghadirkan pakar dan praktisi perfilman lainnya, yakni Dyna Herlina Suwarto (Dosen dan Litbang BPI), Loeloe Hendra (Dosen dan Sutradara), serta Rony Ramadhan (Dosen dan Praktisi). Forum ini dipandu oleh moderator Ageng Indra Sumarah dengan MC Vivi Helmalia Putri, yang berangkat dari keresahan kolektif mengenai minimnya destinasi tayang di tengah pesatnya produksi film nasional.

Fenomena ini sejalan dengan tantangan distribusi film independen di Indonesia. Kesenjangan antara volume produksi film yang terus meningkat dan jumlah layar bioskop yang terbatas seringkali membuat karya-karya berskala kecil atau edukatif tersingkir dari ekosistem komersial. Oleh karena itu, penguatan ruang putar alternatif di tingkat komunitas dan sekolah menjadi langkah krusial untuk memastikan ekosistem perfilman yang sehat dan inklusif. (Humas)

Loading

Search
Categories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEN